My New Template

Skin atau template sebuah blog, konon, sedapat mungkin mewakili karakter pemiliknya. Tetapi untuk mempunyai skin yang semacam itu tentu saja tidak mudah. Skin/template yang disediakan oleh server seperti blogger dan wordpress, misalnya, banyak yang bagus tetapi sangat general dan tidak unik. Menghendaki yang unik juga belum tentu bagus. Skin yang saya luncurkan hari ini adalah contohnya. Ha ha ha

Beberapa hari ini, di tengah mobilitas saya yang terganggu akibat keseleo, saya kembali mengerjakan skin blog ini. Saya pikir-pikir, kalau di rumah (Jogja) nanti pasti tidak sempat. Pertama, soal waktu. Kedua, soal koneksi internet.

Soal waktu tentu saja penting. Saya memerlukan waktu hampir seminggu penuh mulai dari menemukan ide, membuat draft, lalu menuangkannya dalam kode-kode html. Foto lilin itu saya buat sendiri (pinjam lilinnya roommate), menyusul tak ada gambar yang cocok dengan yang saya inginkan. Lagian, sudah saatnya menampilkan foto sendiri daripada ambil milik orang lain.

Foto wajah saya, yang muncul kembali setelah sekian lama tersembunyi, adalah produk self-potrait juga. Nggak pede juga sih… tapi lha wong cari gambar latar ya nggak ketemu, mau apa lagi…

Saya menyukai warna hitam karena warna ini sangat friendly dengan gambar (yang di gallery itu). Selain juga rasanya heing begitu.

Kedua soal koneksi internet. Maklum, saaat mengaplikasikan kode html, kadang apa yang kita rumuskan tak sesuai dengan yang tampil di web. Dengan sistem CSS begini, kalau mengerjakannya off-line sudah nyaris tidak mungkin. Belum lagi kadang antara IE dengan Firefox nggak membaca kode html kita dengan cara yang sama. Mangkel-ke banget. Untuk menemukan “kata sepakat” antara IE dengan Firefox dalam hal sekedar border-dotted di halaman ini, saya harus bolak-balik sampai dua jam (saking bodone… ha ha ha) untuk menemukan padding dan margin yang pas.

Jadi, dengan dua alasan itu saja, sebelum pulang saya merasa perlu membuat skin yang lebih unique dan durable. Nah, sekarang giliran anda untuk mengomentarinya (bila mau).

(cerita “things to leave” akan saya lanjutkan lagi besok)

maftuhin.net: My New Template

Beberapa hari yang lalu, harian the Wall Street Journal menampilkan sebuah wawancara dengan judul yang membuat saya penasaran, “The Last King of Java”. Kalimat pembukanya pun eye catching:

Suppose for a moment that the single most influential religious leader in the Muslim world openly says “I am for Israel.” Suppose he believes not only in democracy but in the liberalism of America’s founding fathers. Suppose that, unlike so many self-described moderate Muslims who say one thing in English and another in their native language, his message never alters. Suppose this, and you might feel as if you’ve descended into Neocon Neverland.

In fact, you have arrived in Jakarta and are sitting in the small office of an almost totally blind man of 66 named Abdurrahman Wahid. A former president of ndonesia, he is the spiritual leader of the Nahdlatul Ulama (NU), an Islamic organization of some 40 million members. Indonesians know him universally as Gus Dur, a title of affection and respect for this descendant of Javanese kings. In the U.S. and Europe he is barely spoken of at all–which is both odd and unfortunate, seeing as he is easily the most important ally the West has in the ideological struggle against Islamic radicalism.

Yah, kalau soal Gus Dur, kita semua tahu tentu. Baik yang pro maupun yang kontra, Gus Dur adalah pembela demokrasi dan kebebasan.
Tulisan di koran itu tidak ada yang baru bagi mereka yang sudah familiar dengan Gus Dur, saya kira tak ada lagi yang menarik untuk dikomentari… tetapi ada satu pernyataan kontroversial yang baru saya temukan dari wawancara itu. Gus Dur bilang:

“Young people like to kiss each other,” he says, throwing his hands in the air. “Why not? Just because old people don’t do it doesn’t mean it’s wrong.”

Wah, Gus…. ini benar-benar liberal! Saya nggak tahu apa ini salah terjemah atau memang Gus Dur benar-benar mengatakannya dengan konteks kalimat yang lebih luas… misalnya “it doesn’t mean wrong [legally]” boleh saja cium-ciuman menurut aturan negara tetapi bukan berarti boleh menurut moral agama… misalnya menurut kitab sulam al-tawfiq yang banyak ditakuti santri-santri itu. Kita kan susah membedakan kapan Gus Dur menjadi kiai dan kapan beliau menjadi politisi.
Salam hangat Gus, kangen rasanya menunggu gagasan-gagasan segar njenengan…

Next Page »